DRAFT SKRIPSI
Nama :
Riring Hasim
NIM :
20600109032
Semester : IX
(Sembilan)
Fakultas/Jurusan : Tarbiyah
dan Keguruan / PGMI
Judul :“Peningkatan Motivasi Belajar
Pendidikan Agama di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab.
Gowa”
A.
Latar
belakang masalah.
Pendidikan
merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik dalam segi
kehidupan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bernegara. Bahkan dapat dinyatakan bahwa maju mundurnya
suatu bangsa itu ditentukan oleh perkembangan pendidikan bangsa tersebut. Hal
ini disebabkan karena melalui pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non
formal akan lahir generasi-generasi penerus bangsa yang mampu mengharumkan nama
bangsa ke depannya.
Pentingnya
pendidikan sangat mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari, baik itu di dalam
keluarga maupun masyarakat, ini dikarenakan pendidikan dapat mengangkat derajat
seseorang. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah al-Mujadilah ayat 11 :
Terjemahannya :
Hai orang-orang yang beriman, apabila
dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka
lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.[1]
.
Proses
belajar mengajar adalah suatu proses yang sengaja diciptakan untuk kepentingan
anak didik. Agara anak didik senang dan bergairah belajar, guru berusaha
menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dengan memanfaatkan semua potensi
kelas yang ada.[2]
Dalam
kenyatannya peneliti menemukan di SD Inpres Tonrorattang peserta didik kurang berkonsentrasi atau serius untuk belajar. Peserta
didik banyak yang main-main, mengganggu teman, sehingga konsentrasi belajar berkurang,
mereka seakan tidak termotivasi lagi untuk belajar. Sehubungan dengan hal ini ada motivasi tersendiri
bagi penulis yang ingin mengkaji sejauh mana proses peningkatan motivasi dalam
proses belajar mengajar khususnya di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec.
Biringbulu Kab. Gowa.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah “ Bagaimana peningkatkan
Motivasi Belajar Siswa di SD Inpres
Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa.
1. Bagaimana
cara peningkatan motivasi belajar siswa di
SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. gowa?
2. bagaimana
motivasi belajar siswa di SD Inpres
Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. gowa?
.
C.
Pengertian
Operasional Variabel
Sesuai dengan judul “ Peningkatan motivasi
belajar pendidikan agama di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec.
Biringbul Kab. Gowa“. Ada 3 variabel yang terkandung dalam judul draft ini.
Variabel yang dimaksud itu adalah sebagai berikut :
1.
Peningkatan adalah
2.
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri
seseorang secara disadari atau tidak
disadari untik melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.[3]
3.
Belajar adalah interaksi individu dengan lingkungannya
yang membawa perubahan sikap, tindak, perbuatan dan perilakunya.[4]
4.
Motivasi Belajar adalah dorongan yang berasal dari
dalam dan luar diri siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar. Anak yang
memiliki motivasi tinggi akan memiliki semangat yang tinggi pula untuk selalu
belajar, begitu pula sebaliknya anak yang memiliki motivasi rendah akan malas
dalam menerima pelajaran.
D.
Tujuan dan
Kegunaan Penelitian
1. Tujuan penelitian.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
sejauh mana Peningkatan Motivasi belajar Pendidikan Agama di SD Inpres
Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa.
2. Kegunaan penelitian.
a)
Bagi
Jurusan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, sebagai bahan informasi dan penambah
khasanah kepustakaan agar dapat dibuat koleksi bacaan bagi masyarakat umumnya
dan mahasiswa khususnya.
b)
Bagi
guru SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa sebagai
bahan referensi dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
c)
Bagi
penulis pribadi, sebagai wadah pengembangan potensi dan untuk menambah wawasan.
E.
Tinjauan
Pustaka
A. Motivasi Belajar
1. Pengertian motivasi.
Proses belajar mengajar adalah suatu
proses yang dengan sengaja diciptakan untuk kepentingan anak didik. Agar anak didik
senang dan bergairah belajar, guru berusaha menyediakan linkungan belajar yang
kondusif dengan memenfaatkan semua potensi kelas yang ada. Keinginan ini selalu
ada pada setiap diri guru di mana pun dan kapan pun. Hanya sayangnya, tidag
semua keinginan guru itu terkabul semuanya karena berbagai factor penyebabnya.
Masalah motivasi adalah salah satu dari sederetan faktor yang menyebabkan itu.
Motivasi memeng merupakan faktor yang
mempunyai arti penting bagi seorang anak didik. Apalah artinya anak didik pergi
ke sekolah tanpa motivasi untuk belajar. Untuk bermain-main berlama-lama atau
membuat keributan adalaa suatu perbuatan yang kurang terpuji bagi orang
terpelajar seperti anak didik.
Ketika seorang guru melihat perilaku anak
didik yang seperti itu, maka perlu diambil langkah-langkah yang dapat
menimbulkan motivasi untuk belajar bagi anak didik tersebut. Hanya dengan
motivasilah anak didik dapat bergerak hatinya untuk belajar bersama
teman-temannya yang lain. Bila tidak, maka sia-sialah bahan pelajaran yang guru
sampaikan ketika itu. Dalam usaha untuk membangkitkan gairah belajar anak
didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu:
1.
Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
2.
Menjelaskan secara konkret kepada anak apa yang dapat dilakukan pada
akhir pengajaran
3.
Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak
didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di
kemudian hari
4.
Membentuk kebiasaan belajar yang baik
5.
Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual
maupun kelompok
6.
Menggunakan metode yang bervariasi
Kemudian ada beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan guna mempertahankan
minat anak didik terhadap bahan
pelajaran yang diberikan. Bentuk-bentuk motivasi yang dimaksud adalah:
a.
Member Angka
Angkat yang dimaksud adalah sebagai symbol
atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang dberikan kepada
setiap anak didik biasanya bervariasi sesuai dengan hasil ulangan yang telah
mereka peroleh dari hasil penilaian guru. Angka merupakan alat motivasi yang
cukup memberikan rangsangan kepada anak
didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatnya prestasi belajar mereka.
b.
Hadiah
Hadiah adalah sesuatu yang diberikan
kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata. Hadiah
yang diberikan kepada orang lain bias berupa apa saja, tergantung dari
keinginan pemberi. Atau bias juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh
seseorang.
Pemberian hadiah bisa dilakukan kepada
semua anak didik, maupun kepada anak didik perseorangan. Namun yang perlu di
ingat, kapan guru harus memberikan hadiah kepada semua anak didik, kepada
sebagian anak didik atau anak didik perseorangan.
Hadiah berupa benda seperti buku tulis,
pensil, pena, bolpoint, penggaris, buku bacaan, dan sebagainya dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan belajar anak didik. Demikian juga halnya hadiah
berupa makanan seperti gula-gula,permen, roti, dan sejenisnya dapat digunakan
untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik di dalam kegiatan belajar mengajar.
c.
Pujian
Pijian adalah alat motivasi yang positif.
Setiap orang senang dipuji. Tidak perduli tua atau muda, bahkan anak-anak pun
senang dipuji atas sesuatu pekerjaan yang telah selesai dkerjakannya dengan
baik.
Dalam kegiatan belajar mengajar, pujian
dapat dimanfaatkan sebagai alat motivasi. Karena anak didik juga manusia, maka
dia juga senang dipuji. Pujian juga tidak hanya diberikan kepada seorang anak
didik, tetapi dapat juga diberikan kepada semua anak didik.
d.
Gerakan Tubuh
Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang
cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, member salam,
menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaikkan tangan dan lain-lain adalah
sejumlah gerakan fisik yang dapat memberikan umpan balik dari anak didik.
Guerakan guru merupakan penguatan yang
dapat membangkitkan gairah belajar anak didik, sehingga proses belajar mengajar
lebih menyenangkan. Hal ini terjadi karena interaksi yang terjadi antara guru
dengan anak didik seiring untuk mencapai tujuan pengajaran.
e.
Memberi Tugas
Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut
pelaksanaan untuk diselesaikan. Guru dapat memberikan tugas kepada anak didik
sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tugas belajar anak didik. Tugas
dapat diberikan dalam berbagi bentuk. Tidag hanya dalam bentuk tugas kelompok,
tetapi dapat juga dalam bentuk tugas perseorangan.
f.
Member Ulangan
Ulangan adalah salah satu strategi yang
penting dalam pengajaran. Dalam rentangan waktu tertentu guru tidak pernah
melupakan masalah ulangan ini. Sebab dengan ulangan yang diberikan kepada anak
didik, guru ingin mengeahui sampai dimana dan sejauh mana hasil pengajaran yang
dilakukannya(evaluasi proses) dan sampai sejauh mana tingkat penguasaan anak
didik terhadap bahan yang telah diberikan dalam rengtangan waktu tertentu(evaluasi
produk).
g.
Mengetahui Hasil
Ingin mengetahui adalah suatu sifat yang
sudah melekat di dalam diri setiap orang. Jadi, setiap orang selalu ingin
mengetahui sesuatu yang belum di ketahuinya. Dorongan ingin mengetahui membuat
seseorang berusaha dengan cara apa pun agar keinginannya itu menjadi kenyataan
atau terwujud.
h.
Hukuman
Hukuman adalah reinforcement yang negative, tetapi diperlukan dalam pendidikan.
Hukuman yang dimaksud di sini tidak seperti hukuman penjara atau hukuman potong
tangan. Tetapi adalah hukuman yang bersifat mendidik. Hukuman yang mendidik
inilah yang diperlukan dalam pendidikan. Kesalahan anak didik karena melanggar
disiplin dapat diberikan hukuman berupa sanksi menyapu lantai, mencatat bahan
pelajaran yang ketinggalan, atau apa saja yang sifatnya mendidik.[5]
Secara alami, motivasi siswa sesungguhnya
berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlihat dalam porses pembelajaran.
Motivasi sangat diperlukan bagi terciptanya
proses pembelajaran di kelas secara efektif. Motvasi memiliki peranan
yang sangat penting dalam pembelajaran, baik dalam proses maupun pencapaian
hasil. Seorang siswa yang memiliki motivasi tinggi, pada umumnya meraih
keberhasilan dalam proses maupun output pembelajaran.[6]
2. Pengertian Belajar
Belajar adalah key term (istlah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha
pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah pendidikan. Sebagai
suatu proses, belajar hamper selalu mendapat tempat yag luas dalam berbagai
disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan.[7]
Belajar adalah suatu kata yang sudah
akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi pelajar atau mahasiswa kata”
Belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga
pendidikan formal.
Belajar adalah semua upaya manusia atau
individu memobilisasi (menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan) semua sumber
daya yang dimilikinya (fisik, mental, intelektual, emosional dan sosial) untuk
memberikan jawaban yang tepat terhadap
problem yang dihadapinya.[8]
Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.[9]
Selanjutnya belajar dalam perspektif psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar juga berarti suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.[10]
Berdasarkan pendapat di atas maka
penulis menarik kesimpulan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif,
afektif, dan Psikomotor.
3. Macam-macam motivasi.
Membicarakan macam-macam motivasi, hanya
akan dibahas dari 2 sudut pandang, yakni berasal dari dalam pribadi seseorang
yang disebut “motivasi intrinsic” dan motivasi yang berasal dari luar diri
seseorang yang disebut “Motivasi ekstrinsik”.
a. Motivasi
intrinsik.
Yang dimaksud dengan motivasi
intrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motivasi itu intrinsik bila tujuannnya inheren
dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk
menguasai nilai-nilai yang terkandung di dalam pelajaran itu. Anak didik
termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang
terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin
mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah, dan sebagainya.
Bila seseorang telah memiliki motivasi
intrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan
yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar,
motivasi intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang
tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar
secara terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin
maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif,
bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan sangat dibutuhkan dan
sangat berguna kini dan masa akan datang.[11]
Hamzah B. Uno memaparkan isi yang
terkandung dalam motivasi intrinsik adalah sebagai berikut :
1)
Penyesuaian tugas dan minat.
2)
Perencanaan yang penuh variasi.
3)
Umpan balik atas respons siswa.
4)
Kesempatan respons peserta didik yang aktif.
5)
Kesempatan peserta didik untuk menyesuakian tugas pekerjaannya.[12]
Jadi perlu ditegaskan, bahwa anak didik
yang memiliki motivasi intrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik,
yang berpengetahuan dan mempunyai keahlian dalam bidang tertentu.
b. Motivasi
ekstrinsik.
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari
motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan
berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan
ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor
situasi belajar. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar,
kehormatan, dan sebagainya.[13]
Oemar hamalik menambahkan motivasi
ekstrinsik ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak
semuanya menarik minat dan perhatian siswa atau sesuai dengan kebutuhan siswa.
Lagi pula sering kali para siswa belum memahami untuk apa ia belajar. Karena
itu motivasi terhadap pelajaran itu perlu dibangkitkan oleh guru sehingga para
siswa mau dan ingin belajar.[14]
Berikut ini Hamzah B. Uno dalam bukunya
yang berjudul Teori Motivasi dan Pengukurannya memaparkan isi yang terkandung
dalam motivasi ekstrinsik, adalah sebagai berikut :
1)
Penyesuain tugas dan minat.
2)
Perencanaan yang penuh variasi.
3)
Respons siswa.
4)
Kesempatan peserta didik yang aktif.
5)
Kesempatan peserta didik untuk menyelesaikan tugasnya.
6)
Adanya kegiatan yang menarik dalam pelajaran.[15]
4. Prinsip-prinsip motivasi belajar.
Prinsip-prinsip ini disusun atas dasar
penelitian yang seksama dalam rangka mendorong motivasi belajar murid-murid di
sekolah yang mengandung pandanfgan demokratis dan dalam rangka menciptkan self motivation dan self discipline di kalangan murid-murid.
Menurut Kenneh H.Hover, yang dikutip dari
buku Oemar Hamalik, mengemukakan prinsip-prinsip motivasi sebagai berikut :
1)
Pujian lebih efektif daripada hukuman.
2)
Semua murid
mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifar dasar) tertentu yang
harus mendapat kepuasan.
3)
Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif
daripada motivasi yang dipaksakan dari luar.
4)
Terhadap jawaban (perbuatan) yantg serasi (sesuai
dengan keinginan) perlu dilakukan usaha pemantauan (reinforcement).
5)
Motivasi itu sudah menjalar atau tersebar terhadap
orang lain.
6)
Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan yang akan
merangsang motivasi.
7)
Tugas-tugas yang akan dibebankan pada diri sendiri akan
menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya dari pada apabila tugas
itu dipaksakan oleh guru.
8)
Pujian-pujian yang datangnya dari luar (eksternal reward) kadang-kadang
diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya.
9)
Tekhnik dan proses mengajar yang bermacam-macam adalah
efektif untuk memelihara minat murid.
10)
Manfaat minat yang telah dimiliki oleh murid adalah
bersifat ekonomis.
11)
Kegiatan-kegitan yang dapar merangsang minat muri-murid
yang kurang mungkin tidak ada artinya (kurang berharga) bagi para siswa yang
tergolong pandai.
12)
Kecemasan yang besar akan menimbulkan kesulitan
belajar.
13)
Kecemasan dan frustasi yang lemah dapat membantu
belajar, dapat juga lebih baik.
14)
Apabila tugas tidak terlalu sukar dan apabila tidak ada
maka frustrasi secara cepat menuju demoralisasi.
15)
Setiap murid memiliki tingkat-tingkat frustrasi
toleransi yang berlainan.
16)
Tekanan kelompok murid kebanyakan lebihy efektif dalam
motivasi daripada tekanan/paksaan dari ornag dewasa.
17)
Motivasi yang besar erat hubungannnya dengan
kreatifitas murid.[16]
5. Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar.
Dalam proses interaksi belajar mengajar,
baik motivasi intrinsic maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong
anak didik agar tekun belajar. Motifasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada
diantara anak didik yang kurang berminat mengikuti pelajaran dalam jangka waktu
tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing anak didik
dalam belajar.
Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat
dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, adalah
sebagai berikut :
a. Memberi
angka.
Angka
dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak
didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi,
sesuai dengan hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian
guru, bukan karena belas kasihan guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup
memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih
meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya
terdapat dalam buku rapor sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diprogramkan
dalam kurikulum.
b. Hadiah.
Hadiah
adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau
kenang-kenangan. Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat
motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi.
Pemberian hadiah ini bertujuan agar anak didik termotivasi untuk belajar guna
mempertahankan prestasi belajar yang mereka capai. Tidak menutup kemungkinan
akan mendorong anak didik lainnya untuk ikut berkompetisi dalam belajar.
c. Kompetisi.
Kompetesi
adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak
didik mereka bergairah belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun
kelompok diperlukan dalam pendidikan.
d. Memberi
Ulangan
Para siswa akan
menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,
memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat
oleh guru, adalah jangan terlalu sering karena bisa membosankan dan bersifat
retinitis.
e. Mengetahui
Hasil
Dengan mengetahui
hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk
lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat,
maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan
hasilnya terus meningkat.
f. Ego-Involvement.
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik
agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan
sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah
satu bentuk motivasi yang cukup penting.
Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik
dengan menjaga harga dirinya.
g. Memberi
ulangan.
Ulangan bisa dijadikan
sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar
jauh- jauh hari untuk menghadapi ulangan.
h. Mengetahui
hasil.
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan
sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk
belajar lebih giat.
i. Pujian.
Pujian yang diucapkan pada waktu yang
tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement
yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.
j. Hukuman.
Meski hukuman sebagai reinforcement yang
negative, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat
motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila
dilakukan dengan pendekatan edukatif.
k. Hasrat
untuk belajar.
Hasrat untuk belajar berarti ada unsure
kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila
dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti
pada diri anak didik itu memang ada motivsi untuk belajar, sehingga sudah
barang tentu hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tidak berhasrat
untuk belajar.
l. Minat.
Minat adalah kecenderungan yang menetap
untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat
terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten
dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan
rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
m.
Tujuan yang diakui.
Rumusan
tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi
yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang hrus dicapai, dirasakan
anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus
belajar.[17]
6. Tehnik-tehnik motivasi dalam pembelajaran.
Beberapa tekhnik motivasi
yang dapat dilaklukan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Pernyataan
penghargaan secara verbal.
b. Menggunakan
nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan.
c. Menimbulkan
rasa ingin tahu.
d. Memunculkan
sesuatu yang tidak diduga oleh siswa.
e. Menjadikan
tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa .
f. Menggunakan
materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar.
g. Gunakan
kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang
telah dipahami.
h. Menuntut
siswa untuk menggunakan hal- hal yang telah dipelajari sebelumnya.
i.
Menggunkan simulasi dan permainan.
j.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan
kemahirannya di depan umum.
k. Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan
keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar.
l.
Memahami iklim sosial dalam sekolah.
m. Memanfaatkan
kewibawaan guru secara tepat.
n. Memperpadukan
motif- motif yang kuat.
o. Memperjelas
tujuan belajar yang hendak dicapai.
p. Merumuskan
tujuan- tujuan sementara.
q. Memberitahukan
hasil kerja yang telah dicapai
r.
Membuat suasana persaingan yang sehat di antara para
siswa.
s. Mengembangkan
persaingan dengan diri sendiri.
t.
Memberikan contoh yang positif.[18]
7. Fungsi motivasi dalam belajar dan
pembelajaran
Motivasi intrinsik maupun motivasi
ekstrinsik sama – sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi
perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan.Dorongan
adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak
dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan.Karena itulah baik dorongan atau
penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap
perbuatan dalam belajar.
Untuk jelasnya ketiga fungsi motivasi
dalam belajar tersebut di atas, akan diuraikan dalam pembahasan berikut:
a. Motivasi
sebagai pendorong perbuatan.
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat
untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk
belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin
tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu
akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu.
b. Motivasi
sebagai penggerak perbuatan.
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap
terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang
kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Di sini anak didik sudah
melakukan aktivitas belajar denagn segenap jiwa dan raga. Akal pikiran
berproses dengan sikap raga yang tunduk dengan kehendak perbuatan belajar.
c. Motivasi
sebagai pengarah perbuatan.
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat
menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang
diabaikan. Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata
pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran
yng lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran di mana tersimpan
sesuatu yang akan dicri itu. Sesuatu yang akn dicari anak didik merupakan
tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah
yang memberikan motivasi kepda anak didik dalam belajar.[19]
8. Peranan motivasi dalam belajar dan
pembelajaran.
Motivasi pasa dasarnya dapat membantu
dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu yang sedang belajar. Ada
beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara
lain adalah :
a.
Peran motivasi dalam membentuk penguatan belajar.
Motivasi dapat berperan dalam penguatan
belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang
memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang
pernah dilaluinya.
b.
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar.
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan
belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk
belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau
dinikmati manfaatnya bagi anak didik.
c.
Motivasi menentukan ketekunan belajar.
Seorang anak yang telah termotivasi untuk
belajar sesuatu, akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan
harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk
belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila seseorang
kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak akan tahan
lama belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan
belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan
ketekunan belajar.
[1] Al-Quran dan terjemahan h. 910.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan
Zain, Strategi Belajar Mengajar (Cet.
4 Jakarta: Rineka Cipta,2010) h. 147
[3] H. Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran (Cet.II; Bandung:
Bumi Rancaekek Kencana, 2008), h. 183.
[4] H. Abdurrahman. Pengelolahan Pengajaran (Cet. Ke 6 1994)
h. 97
[5] Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., h. 156.
[6] H. Mohammad Asrori, op. cit., h. 184.
[7] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Ed. Revisi 12
Jakarta: 2012) h. 59.
[8] H. Abdurrahman, op. cit., h.97.
[9] Slameto, Belajar dan Faktor -Faktor yang Mempengaruhinya (Cet. IV; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), h.
2.
[10] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Ed. 1, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2008) h. 59.
[11] Syaiful Bahri Djamarah.,op cit, h.116
[12]
Hamzah B. Uno, op cit., h. 9
[13]
Syaiful Bahri Djamarah.,op cit,
h.117
[14]
Oemar Hamalik op cit., h. 163.
[15]
Hamzah. B Uno, op cit.,h.9
[16] Oemar Hamalik.op cit., h. 163-166.
[17] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ( Jakarta : Raja Grafindo
Persada,2007), h.92-95.
[18] Hamzah B. Uno, op.cit., h.34-37.
[19]
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit.,
h. 122-124.