Senin, 12 Mei 2014

Skripsi peningkatan hasil belajar pendidikan agama di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa


DRAFT SKRIPSI

Nama                          : Riring Hasim
NIM                            : 20600109032
Semester                     : IX (Sembilan)
Fakultas/Jurusan      : Tarbiyah dan Keguruan / PGMI
Judul                          :Peningkatan Motivasi Belajar Pendidikan Agama di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa”
A.       Latar belakang masalah.
            Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik dalam segi kehidupan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bernegara.  Bahkan dapat dinyatakan bahwa maju mundurnya suatu bangsa itu ditentukan oleh  perkembangan pendidikan bangsa tersebut. Hal ini disebabkan karena melalui pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal akan lahir generasi-generasi penerus bangsa yang mampu mengharumkan nama bangsa ke depannya.
            Pentingnya pendidikan sangat mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari, baik itu di dalam keluarga maupun masyarakat, ini dikarenakan pendidikan dapat mengangkat derajat seseorang. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah al-Mujadilah ayat 11 :





Terjemahannya :
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[1]
.
Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang sengaja diciptakan untuk kepentingan anak didik. Agara anak didik senang dan bergairah belajar, guru berusaha menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dengan memanfaatkan semua potensi kelas yang ada.[2]
Dalam kenyatannya peneliti menemukan di SD Inpres Tonrorattang peserta didik kurang berkonsentrasi atau serius untuk belajar. Peserta didik banyak yang main-main, mengganggu teman, sehingga konsentrasi belajar berkurang, mereka seakan tidak termotivasi lagi untuk belajar. Sehubungan dengan hal ini ada motivasi tersendiri bagi penulis yang ingin mengkaji sejauh mana proses peningkatan motivasi dalam proses belajar mengajar khususnya di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa.
B.        Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah “ Bagaimana peningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa.
1.      Bagaimana cara peningkatan motivasi belajar siswa di  SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. gowa?
2.      bagaimana motivasi belajar siswa di  SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. gowa?
.
C.       Pengertian Operasional Variabel
Sesuai dengan judul “ Peningkatan motivasi belajar pendidikan agama di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbul Kab. Gowa“. Ada 3 variabel yang terkandung dalam judul draft ini. Variabel yang dimaksud itu adalah sebagai berikut :
1.    Peningkatan adalah
2.    Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang  secara disadari atau tidak disadari untik melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.[3]
3.    Belajar adalah interaksi individu dengan lingkungannya yang membawa perubahan sikap, tindak, perbuatan dan perilakunya.[4]
4.    Motivasi Belajar adalah dorongan yang berasal dari dalam dan luar diri siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar. Anak yang memiliki motivasi tinggi akan memiliki semangat yang tinggi pula untuk selalu belajar, begitu pula sebaliknya anak yang memiliki motivasi rendah akan malas dalam menerima pelajaran.
D.       Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan penelitian.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana Peningkatan Motivasi belajar Pendidikan Agama di SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa.

2.      Kegunaan penelitian.
a)      Bagi Jurusan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, sebagai bahan informasi dan penambah khasanah kepustakaan agar dapat dibuat koleksi bacaan bagi masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya.
b)      Bagi guru SD Inpres Tonrorattang Desa Tonrorita Kec. Biringbulu Kab. Gowa sebagai bahan referensi dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
c)      Bagi penulis pribadi, sebagai wadah pengembangan potensi dan untuk menambah wawasan.

E.     Tinjauan Pustaka
A. Motivasi Belajar
1.      Pengertian motivasi.
Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang dengan sengaja diciptakan untuk kepentingan anak didik. Agar anak didik senang dan bergairah belajar, guru berusaha menyediakan linkungan belajar yang kondusif dengan memenfaatkan semua potensi kelas yang ada. Keinginan ini selalu ada pada setiap diri guru di mana pun dan kapan pun. Hanya sayangnya, tidag semua keinginan guru itu terkabul semuanya karena berbagai factor penyebabnya. Masalah motivasi adalah salah satu dari sederetan faktor yang  menyebabkan itu.
Motivasi memeng merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang anak didik. Apalah artinya anak didik pergi ke sekolah tanpa motivasi untuk belajar. Untuk bermain-main berlama-lama atau membuat keributan adalaa suatu perbuatan yang kurang terpuji bagi orang terpelajar seperti anak didik.
Ketika seorang guru melihat perilaku anak didik yang seperti itu, maka perlu diambil langkah-langkah yang dapat menimbulkan motivasi untuk belajar bagi anak didik tersebut. Hanya dengan motivasilah anak didik dapat bergerak hatinya untuk belajar bersama teman-temannya yang lain. Bila tidak, maka sia-sialah bahan pelajaran yang guru sampaikan ketika itu. Dalam usaha untuk membangkitkan gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu:
1.      Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
2.      Menjelaskan secara konkret  kepada anak apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran
3.      Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari
4.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
5.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
6.      Menggunakan metode yang bervariasi
Kemudian ada beberapa bentuk  motivasi yang dapat guru gunakan guna mempertahankan minat  anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Bentuk-bentuk motivasi yang dimaksud adalah:


a.       Member Angka
Angkat yang dimaksud adalah sebagai symbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang dberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi sesuai dengan hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan  kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatnya prestasi  belajar mereka.
b.      Hadiah
Hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata. Hadiah yang diberikan kepada orang lain bias berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi. Atau bias juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh seseorang.
Pemberian hadiah bisa dilakukan kepada semua anak didik, maupun kepada anak didik perseorangan. Namun yang perlu di ingat, kapan guru harus memberikan hadiah kepada semua anak didik, kepada sebagian anak didik atau anak didik perseorangan.
Hadiah berupa benda seperti buku tulis, pensil, pena, bolpoint, penggaris, buku bacaan, dan sebagainya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar anak didik. Demikian juga halnya hadiah berupa makanan seperti gula-gula,permen, roti, dan sejenisnya dapat digunakan untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik di dalam kegiatan belajar mengajar.

c.       Pujian
Pijian adalah alat motivasi yang positif. Setiap orang senang dipuji. Tidak perduli tua atau muda, bahkan anak-anak pun senang dipuji atas sesuatu pekerjaan yang telah selesai dkerjakannya dengan baik.
Dalam kegiatan belajar mengajar, pujian dapat dimanfaatkan sebagai alat motivasi. Karena anak didik juga manusia, maka dia juga senang dipuji. Pujian juga tidak hanya diberikan kepada seorang anak didik, tetapi dapat juga diberikan kepada semua anak didik.
d.      Gerakan Tubuh
Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, member salam, menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaikkan tangan dan lain-lain adalah sejumlah gerakan fisik yang dapat memberikan umpan balik dari anak didik.
Guerakan guru merupakan penguatan yang dapat membangkitkan gairah belajar anak didik, sehingga proses belajar mengajar lebih menyenangkan. Hal ini terjadi karena interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik seiring untuk mencapai tujuan pengajaran.
e.       Memberi Tugas
Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan. Guru dapat memberikan tugas kepada anak didik sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tugas belajar anak didik. Tugas dapat diberikan dalam berbagi bentuk. Tidag hanya dalam bentuk tugas kelompok, tetapi dapat juga dalam bentuk tugas perseorangan.
f.       Member Ulangan
Ulangan adalah salah satu strategi yang penting dalam pengajaran. Dalam rentangan waktu tertentu guru tidak pernah melupakan masalah ulangan ini. Sebab dengan ulangan yang diberikan kepada anak didik, guru ingin mengeahui sampai dimana dan sejauh mana hasil pengajaran yang dilakukannya(evaluasi proses) dan sampai sejauh mana tingkat penguasaan anak didik terhadap bahan yang telah diberikan dalam rengtangan waktu tertentu(evaluasi produk).
g.      Mengetahui Hasil
Ingin mengetahui adalah suatu sifat yang sudah melekat di dalam diri setiap orang. Jadi, setiap orang selalu ingin mengetahui sesuatu yang belum di ketahuinya. Dorongan ingin mengetahui membuat seseorang berusaha dengan cara apa pun agar keinginannya itu menjadi kenyataan atau terwujud.
h.      Hukuman
Hukuman adalah reinforcement yang negative, tetapi diperlukan dalam pendidikan. Hukuman yang dimaksud di sini tidak seperti hukuman penjara atau hukuman potong tangan. Tetapi adalah hukuman yang bersifat mendidik. Hukuman yang mendidik inilah yang diperlukan dalam pendidikan. Kesalahan anak didik karena melanggar disiplin dapat diberikan hukuman berupa sanksi menyapu lantai, mencatat bahan pelajaran yang ketinggalan, atau apa saja yang sifatnya mendidik.[5]
Secara alami, motivasi siswa sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlihat dalam porses pembelajaran. Motivasi sangat diperlukan bagi terciptanya  proses pembelajaran di kelas secara efektif. Motvasi memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, baik dalam proses maupun pencapaian hasil. Seorang siswa yang memiliki motivasi tinggi, pada umumnya meraih keberhasilan dalam proses maupun output pembelajaran.[6]   
2.      Pengertian Belajar
            Belajar adalah key term (istlah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hamper selalu mendapat tempat yag luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan.[7]
            Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi pelajar atau mahasiswa kata” Belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.
Belajar adalah semua upaya manusia atau individu memobilisasi (menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan) semua sumber daya yang dimilikinya (fisik, mental, intelektual, emosional dan sosial) untuk memberikan jawaban   yang tepat terhadap problem yang dihadapinya.[8]
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[9]
            Selanjutnya belajar  dalam perspektif  psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar juga berarti suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh  suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[10]
            Berdasarkan pendapat di atas maka penulis menarik kesimpulan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan Psikomotor.

























3.      Macam-macam motivasi.
Membicarakan macam-macam motivasi, hanya akan dibahas dari 2 sudut pandang, yakni berasal dari dalam pribadi seseorang yang disebut “motivasi intrinsic” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang disebut “Motivasi ekstrinsik”.
a.       Motivasi intrinsik.
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik  adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motivasi itu intrinsik bila tujuannnya inheren dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung di dalam pelajaran itu. Anak didik termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah, dan sebagainya.
Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar secara terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan sangat dibutuhkan dan sangat berguna kini dan masa akan datang.[11]
Hamzah B. Uno memaparkan isi yang terkandung dalam motivasi intrinsik adalah sebagai berikut :
1)      Penyesuaian tugas dan minat.
2)      Perencanaan yang penuh variasi.
3)      Umpan balik atas respons siswa.
4)      Kesempatan respons peserta didik yang aktif.
5)      Kesempatan peserta didik untuk menyesuakian tugas pekerjaannya.[12]
Jadi perlu ditegaskan, bahwa anak didik yang memiliki motivasi intrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan dan mempunyai keahlian dalam bidang tertentu.
b.      Motivasi ekstrinsik.
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan, dan sebagainya.[13]
Oemar hamalik menambahkan motivasi ekstrinsik ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat dan perhatian siswa atau sesuai dengan kebutuhan siswa. Lagi pula sering kali para siswa belum memahami untuk apa ia belajar. Karena itu motivasi terhadap pelajaran itu perlu dibangkitkan oleh guru sehingga para siswa mau dan ingin belajar.[14] 
Berikut ini Hamzah B. Uno dalam bukunya yang berjudul Teori Motivasi dan Pengukurannya memaparkan isi yang terkandung dalam motivasi ekstrinsik, adalah sebagai berikut :
1)         Penyesuain tugas dan minat.
2)         Perencanaan yang penuh variasi.
3)         Respons siswa.
4)         Kesempatan peserta didik yang aktif.
5)         Kesempatan peserta didik untuk menyelesaikan tugasnya.
6)         Adanya kegiatan yang menarik dalam pelajaran.[15]
4.      Prinsip-prinsip motivasi belajar.
Prinsip-prinsip ini disusun atas dasar penelitian yang seksama dalam rangka mendorong motivasi belajar murid-murid di sekolah yang mengandung pandanfgan demokratis dan dalam rangka menciptkan self motivation dan self discipline di kalangan murid-murid.
Menurut Kenneh H.Hover, yang dikutip dari buku Oemar Hamalik, mengemukakan prinsip-prinsip motivasi sebagai berikut :
1)         Pujian lebih efektif daripada hukuman.
2)          Semua murid mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifar dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan.
3)         Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar.
4)         Terhadap jawaban (perbuatan) yantg serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan usaha pemantauan (reinforcement).
5)         Motivasi itu sudah menjalar atau tersebar terhadap orang lain.
6)         Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan yang akan merangsang motivasi.
7)         Tugas-tugas yang akan dibebankan pada diri sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya dari pada apabila tugas itu dipaksakan oleh guru.
8)         Pujian-pujian yang datangnya dari luar (eksternal reward) kadang-kadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya.
9)         Tekhnik dan proses mengajar yang bermacam-macam adalah efektif untuk memelihara minat murid.
10)     Manfaat minat yang telah dimiliki oleh murid adalah bersifat ekonomis.
11)     Kegiatan-kegitan yang dapar merangsang minat muri-murid yang kurang mungkin tidak ada artinya (kurang berharga) bagi para siswa yang tergolong pandai.
12)     Kecemasan yang besar akan menimbulkan kesulitan belajar.
13)     Kecemasan dan frustasi yang lemah dapat membantu belajar, dapat juga lebih baik.
14)     Apabila tugas tidak terlalu sukar dan apabila tidak ada maka frustrasi secara cepat menuju demoralisasi.
15)     Setiap murid memiliki tingkat-tingkat frustrasi toleransi yang berlainan.
16)     Tekanan kelompok murid kebanyakan lebihy efektif dalam motivasi daripada tekanan/paksaan dari ornag dewasa.
17)     Motivasi yang besar erat hubungannnya dengan kreatifitas murid.[16]
5.    Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar.
Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsic maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Motifasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada diantara anak didik yang kurang berminat mengikuti pelajaran dalam jangka waktu tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing anak didik dalam belajar.
Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, adalah sebagai berikut :
a.       Memberi angka.
            Angka dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi, sesuai dengan hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru, bukan karena belas kasihan guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
b.      Hadiah.
           Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi. Pemberian hadiah ini bertujuan agar anak didik termotivasi untuk belajar guna mempertahankan prestasi belajar yang mereka capai. Tidak menutup kemungkinan akan mendorong anak didik lainnya untuk ikut berkompetisi dalam belajar.
c.       Kompetisi.
            Kompetesi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik mereka bergairah belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan.
d.      Memberi Ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering karena bisa membosankan dan bersifat retinitis.

e.       Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
f.    Ego-Involvement.
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk  motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.
g.   Memberi ulangan.
Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh- jauh hari untuk menghadapi ulangan.
h.   Mengetahui hasil.
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat.
i.     Pujian.
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.


j.     Hukuman.
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negative, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif.
k.   Hasrat untuk belajar.
Hasrat untuk belajar berarti ada unsure kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivsi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tidak berhasrat untuk belajar.
l.     Minat.
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
m.    Tujuan yang diakui.
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang hrus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.[17]
6.      Tehnik-tehnik motivasi dalam pembelajaran.
Beberapa tekhnik motivasi yang dapat dilaklukan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.       Pernyataan penghargaan secara verbal.
b.      Menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan.
c.       Menimbulkan rasa ingin tahu.
d.      Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa.
e.       Menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa .
f.       Menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar.
g.      Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami.
h.      Menuntut siswa untuk menggunakan hal- hal yang telah dipelajari sebelumnya.
i.        Menggunkan simulasi dan permainan.
j.        Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum.
k.       Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar.
l.        Memahami iklim sosial dalam  sekolah.
m.    Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat.
n.      Memperpadukan motif- motif yang kuat.
o.      Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai.
p.      Merumuskan tujuan- tujuan sementara.
q.      Memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai
r.        Membuat suasana persaingan yang sehat di antara para siswa.
s.       Mengembangkan persaingan dengan diri sendiri.
t.        Memberikan contoh yang positif.[18]
7.      Fungsi motivasi dalam belajar dan pembelajaran
Motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik sama – sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan.Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan.Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar.
Untuk jelasnya ketiga fungsi motivasi dalam belajar tersebut di atas, akan diuraikan dalam pembahasan berikut:
a.    Motivasi sebagai pendorong perbuatan.
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu.
b.   Motivasi sebagai penggerak perbuatan.
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Di sini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar denagn segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang tunduk dengan kehendak perbuatan belajar.
c.    Motivasi sebagai pengarah perbuatan.
 Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan. Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran yng lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran di mana tersimpan sesuatu yang akan dicri itu. Sesuatu yang akn dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepda anak didik dalam belajar.[19]
8.      Peranan motivasi dalam belajar dan pembelajaran.
Motivasi pasa dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain adalah :
a.       Peran motivasi dalam membentuk penguatan belajar.
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya.
b.      Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar.
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak didik.
c.       Motivasi menentukan ketekunan belajar.
Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak akan tahan lama belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.



[1] Al-Quran dan terjemahan h. 910.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Cet. 4 Jakarta: Rineka Cipta,2010) h. 147
[3] H. Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran (Cet.II; Bandung: Bumi Rancaekek Kencana, 2008), h. 183.
[4] H. Abdurrahman. Pengelolahan Pengajaran (Cet. Ke 6 1994) h. 97
[5] Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., h. 156.
[6] H. Mohammad Asrori, op. cit., h. 184.
[7] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Ed. Revisi 12 Jakarta: 2012) h. 59.
[8] H. Abdurrahman, op. cit., h.97.
[9] Slameto, Belajar dan Faktor -Faktor yang Mempengaruhinya  (Cet. IV; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), h. 2.
[10] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Ed. 1, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008) h. 59.
[11] Syaiful Bahri Djamarah.,op cit, h.116
[12]  Hamzah B. Uno, op cit., h. 9
[13]  Syaiful Bahri Djamarah.,op cit, h.117
[14]  Oemar Hamalik op cit., h. 163.
[15] Hamzah. B Uno, op cit.,h.9
[16] Oemar Hamalik.op cit., h. 163-166.
[17] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ( Jakarta : Raja Grafindo Persada,2007), h.92-95.
[18] Hamzah B. Uno, op.cit., h.34-37.
[19]  Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., h. 122-124.